Author Topic: Making Your Music with Angklung, Traditional Musical Instrument from Indonesia  (Read 903 times)

OfflineKristin

Hero Member



The angklung is a musical instrument from indonesia made of two to four bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes are carved to have a resonant pitch when struck and are tuned to octaves. The base of the frame is held in one hand, whilst the other hand strikes the instrument. This causes a repeating note to sound. Each of three or more performers in an angklung ensemble play just one note or more, but altogether complete melodies are produced.

The angklung is popular throughout Southeast Asia, but it originated in what is now West Java and Banten provinces in Indonesia, and has been played by the Sundanese for many centuries. Angklung and its music has become the cultural identity of Sundanese communities in West Java and Banten. Playing angklung as an orchestra requires cooperation and coordination, and is believed promotes the values of teamwork, mutual respect and social harmony.

On November 18, 2010, UNESCO officially recognized Indonesian angklung as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, and encourage Indonesian people and government to safeguard, transmit, promote performances and to encourage the craftsmanship of angklung making.



There are many steps to make an Angklung, e.g. choosing the bamboo, making the parts, tuning , finishing, and maintenance. The specific steps will be explained on next following section.

The first step is choosing and preparing the bamboo. It is chosen by its age. It has to be at least 4 years old and not more than 6 years old. It is cut in the dry season, between 9 a.m. and 3 p.m. After being cut at its base, to a length about 2-3 times width of a hand, it should be stored for about 1 week, so that the bamboo will contain less water.
After a week, the bamboo should be separated from its branches. It should be cut into certain various sizes. Then, it should be stored for about one year to protect it from termites. Such as by sinking the bamboo beneath mud field, pool or river, by smoking it in a fireplace, or by the modern procedure: using formula.

The second step is making and preparing parts of the Angklung. Each Angklung consist of 3 parts, there are :
The Voice Tubes 
?The most important part of an Angklung, is the voice tubes which produce tone. Tuning process, which is the third step, makes the intonation.
The Frame?
Supports the voice tubes to stand inside the hollow space.
The Base
?It functions as the frame of the voice tubes.

The third step is tuning the voice tube. This step consists of many different steps. e.g. :
Half-Done Process
?The process of shaping the bamboo to become laths of voice tube.
Resonance Tuning Process?
The process of blowing the lower part of an Angklung to the floor and measuring it to the tuner.
Main Voice Tuning Process
?The process of tuning the voice by increasing and decreasing the tone by striking voice. This process includes increasing the tone by cutting its upper parts slightly, and decreasing the tone by shaping both voice laths with shaping knife.

The last step is finishing and maintenance. At this step, after each of the voice tubes produces a tone, it would be put into the frame laths and be tied of rattan rope. While during the maintenance process each Angklung is checked to make sure it is has the right tone. If it is out of tone, the Angklung must be re-tuned. Here some steps to re-tuned the angklung.
If the tone of an Angklung is higher than the normal tone, the Angklung (side A) would be whittled by knife little by little until it reaches the tone wished.
If the tone of an Angklung is lower than the normal tone, the end of Angklung (side B) would be cut  until it reaches the normal tone.




Article Sources: http://www.houseofangklung.com/ , https://en.wikipedia.org/
Image Sources: www.traveljunkieindonesia.com , http://andriasmulyadi.weebly.com/ , www.duniacare.com

Offlineindonesiafurniture

Administrator

Jr. Member

Kekayaan Ragam Alat Musik Sunda dan Cara Memainkannya

Indonesia dikenal beragam kekayaan budayanya, termasuk alat musik. Berbicara mengenai alat musik tradisional, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi Indonesia yang memiliki beragam alat musik Jawa Barat memiliki begitu banyak kekayaan warisan budaya yang ada dari waktu ke waktu. Sebagian warganya masih mempertahankan tradisi, seperti melakukan ritual lokal, dan juga alat musik tradisional.

Orang Jawa Barat atau disebut urang Sunda populer dengan musik dan lagunya yang merdu karena keseleraan antara alat musik dan puisi yang mirip dengan cerita rakyat Tanah Pasundan. Begitu juga dengan kebudayaannya yang cukup terkenal, dari kesenian, tari-tarian, perwayangan dan yang lainnya, selalu menjadi daya tarik tersendiri. Tentu, berbagai kesenian tersebut tak lepas dari alat musik tradisional yang mengiringi.

Namun timbul kekhawatiran, warisan budaya itu kelamaan akan terkikis serbuan budaya asing. Generasi milenial tak lagi mengenal alat musik khas sunda. Mereka lebih akrab dengan budaya K-pop, drama Korea atau Jepang. Untuk itu, ayo kenali beberapa alat musik Sunda dan cara menainkannya, agar warisan budaya yang ratusan tahun turun temurun masih dikenali generasi saat ini.

1. Angklung
Angklung jadi satu-satunya alat musik Sunda yang tercatat sebagai karya agung warisan budaya lisan dan Non-bendawi manusia dari UNESCO semenjak November 2010, sungguh membanggakan. Bahkan Saung Anglung Udjo di Bandung menjadi salah satu tujuan para wisatawan mancanegara. Angklung terbuat dari bahan bambu yang dimainkan dengan cara digoyangkan, sehingga keluar nada khusus tergantung jenis angklung yang dimainkan.

Alat musik angklung terdiri atas 2-4 tabung bambu dalam bingkai bambu yang diikat dengan tali atau rotan. Tabung bambu tersebut akan menghasilkan nada tertentu ketika diguncang atau digoyangkan. Agar bunyi angklung menjadi rangkaian melodi yang indah, dibutuhkan beberapa pemain untuk berkolaborasi memainkannya.



2. Calung
Calung adalah alat musik yang berasal dari tanah Sunda yang telah berkembang sejak lama di daerah Jawa Barat. Calung biasanya dimainkan bersama dengan alat musik lainnya yaitu angklung yang juga merupakan alat musik khas masyarakat Sunda. Sama seperti angklung yang terbuat dari bambu pilihan, calung terbuat dari bambu berjenis awi wulung dan awi temen. Namun yang membedakan calung dengan angklung adalah cara memainkannya, apabila angklung dimainkan dengan cara di goyangkan sedangkan calung dimainkan dengan cara dipukul. Calung terbagi menjadi dua jenis, yaitu calung rantay dan calung jinjing. Calung jinjing menjadi jenis calung yang berkembang hingga saat ini dan lebih dikenal oleh masyarakat.

Calung biasanya dimainkan saat upacara pernikahan, khitanan, sebagai hiburan. Biasanya diselingi juga dengan banyolan-banyolan khas Sunda ketika jeda memainkannya. Salah satu seniman Jabar yang sempat melambungkan Calung adalah almarhum Darso, yang mengombinasikan calung dengan alat musik modern hingga populer di Tatar Sunda dengan lagunya seperti Maripi, Kabogoh Jauh, dan lainnya.

3. Kacapi (Kacapi)
Kecapi adalah alat musik khas Jawa Barat yang dimainkan dengan cara dipetik. Bentuk kecapi sendiri adalah kotak, dengan diatasnya berjajar senar atau dawai. Ada dua kecapi dalam Alat music tradisional Sunda, yakni kecapi indung dan kecapi rincik. Alat musik ini dibawa oleh pendatang dari China dan kemudian diperkenalkan ke penduduk di Nusantara. Oleh karena itu, alat musik kecapi juga sebenarnya cukup dikenal di tanah Betawi. Di China, alat musik ini disebut juga dengan "Ghuzeng" yang umumnya digunakan untuk mengiringi musik dengan alunan yang lembut serta mendayu.

Di tanah Sunda, alat musik kecapi dijadikan alat musik utama dalam tembang Sunda atau Mamaos Cianjuran dan kecapi suling. Alat musik kecapi memiliki peranan penting dalam tembang Sunda. Kecapi memiliki dua bagian, yaitu kecapi anak dan induk dalam memainkannya. Umumnya, kecapi induk berperan dalam memulai sebuah musik dan menentukan tempo.

Kecapi induk memiliki 18-20 buah dawai, sedangkan pada kecapi anak memiliki frekuensi yang lebih tinggi dengan dawai yang digunakan hanya 15 buah. Dalam perkembangannya kini, kecapi tidak hanya mengiringi musik tradisional Sunda, tetapi juga untuk mengiringi lagu-lagu non Sunda seperti pop, dangdut dan sebagainya. Sebut saja salah satunya seniman Nano S, yang banyak melahirkan lagu populer melalui petikan kecapinya.

4. Suling
Suling di Jawa Barat sekilas mirip dengan seruling yang ada di beberpa daerah di Indonesia. Alat musik ini hingga kini masih akrab dengan masyarakat Sunda, karena salah satunya dijadikan suvenir di sejumlah tempat wisata. Suling khas Jawa Barat memiliki enam lubang didalamnya, yang menimbulkan suara lebih tinggi dari seruling lain di Indonesia. Alat musik ini sangat populer, sehinga dapat dengan mudah ditemukan didalam rumah masyarakat Sunda.

Suling bambu khas Sunda  terbuat dari bambu dengan ciri-ciri berbentuk ramping yang panjang kurang lebih 15-30 cm dengan diameter berkisar 3-4 cm. Suara pada suling dihasilkan dari udara yang ditiup melalui ujung lubang yang ada pada instrumen. Udara tersebut akan mengalir dan membentur dinding suling. Getaran pada dinding akan menjadi resonator dan menghasilkan nada. Hasilnya adalah nada yang lembut dan indah.

5. Kendang
Kendang menjadi salah satu alat musik tradisional Jawa Barat. Kendang juga menjadi salah satu alat musik yang populer digunakan dalam berbagai pertunjukkan dan acara sebagai penghibur. Selain di Jawa Barat, kendang juga termasuk dalam instrumen musik gamelan di Jawa Tengah.

Umumnya, dalam sebuah pertunjukan kendang khas Sunda terdiri dari tiga kendang, yaitu kendang indung, serta dua kendang anak yang terdiri dari ketipung dan kutiplak. Tiap jenis kendang ini dibedakan sesuai fungsinya, seperti kendan jaipongan, kendang keurseus, kendang kiliningan, kendang ketuk tilu, dan lain-lainnya. Kendang sangat berguna untuk mengatur irama, tempo, memulai sebuah lagu, dan menghentikan sebuah lagu. Cara bermain kendang adalah dipukul atau ditepak.

6. Karinding
Karinding pada awalnya dibuat untuk petani sebagai alat pengusir hama, karena bunyi yang dihasilkan karinding dapat mengganggu indra milik hama. Bunyi yang dihasilkan karinding mengandung getaran low decilbe, getaran ini hanya didengar oleh serangga. Bunyi ini yang dinamakan suara ultrasonic. Nama karinding juga memiliki arti, Ka berarti sumber sedangkan Rinding berarti suara.

Alat musik karinding terbuat dari bambu atau pelepah aren yang berukuran sekitar 20 cm kali 1 cm, ukuran ini tidak selalu mutlak tergantung dengan selera pemain dan pembuatnya.  Bahan untuk membuat karinding tergantung dari letak daerah, contohnya pada bagian timur sunda lebih sering menggunakan bambu karena disana banyak tumbuh pohon bambu. Karinding dibuat menjadi  tiga bagian, yaitu tempat yang digunakan untuk memegang karinding (pancepengan), jarum tempat keluarnya nada (ekor kucing) dan bagian ujungnya (yang disebut pemukul).

7. Rebab
Alat musik traidisonal khas Suku Sunda lainnya adalah rebab, yang seringkali disebut dengan lengek, dan pemain yang memainkan rebab disebut sebagai ngalengek. Dalam sejarah, rebab adalah salah satu alat musik penting untuk mengisi melodi dasar dalam nada. Ukuran rebab ini terbilan kecil dan memiliki badan yang bulat serta leher yang panjang. Rebab khas Sunda, dibuat secara tegak dan dilengkapi dengan busur.

Busur yang digunakan untuk memainkan rebab lebih melengkung dibandingkan dengan busur yang digunakan pada alat musik biola. Tentunya, rebab dimainkan dengan cara menggesek busur pada rebab. Awal mulainya, rebab terbuat dari tembaga serta memiliki tiga senar atau dawai. Namun seiring perkembangannya, rebab dibuat dari bahan dasar kayu dan berbentuk seperti busur panah.

8. Tarawangsa
Tarawangsa adalah alat musik lainnya dari Suku Sunda. Memiliki bentuk yang unik, alat musik ini dimainkan dengan cara digesek. Dalam sejarah, tarawangsa sudah ada lebih dulu sebelum muncul alat musik rebab.
Menurut naskah kuno Sewaka Darma, tarawangsa sudah ada sejak abad ke-18. Hal ini membuat tarawangsa juga disebut sebagai rebab jangkung, karena memiliki bentuk yang serupa namun ukurannya yang lebih tinggi dibanding rebab.
Alat musik ini memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi. Dawai yang dimainkan hanya satu, yaitu yang letaknya paling dekat dengan pemain. Sedangkan dawai lainnya dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari telunjuk sebelah kiri.
Nama tarawangsa tidak hanya digunakan untuk menyebut alat musik ini, tetapi juga digunakan sebagai nama sebuah kesenian musik.

9. Kohkol
Kemudian juga ada kohkol, jika kita perhatikan kohkol memiliki kemiripan dengan kentungan. Namun, masyarakat Sunda menyebutnya sebagai kohkol. Bagi masyarakat Sunda, kohkol merupakan alat musik tradisional yang saait ini masih digunakan.

Sama halnya dengan beberapa daerah di Indonesia, kohkol atau kentungan ini juga digunakan untuk memperingatkan adanya bahaya yang datang bagi masyarakat Sunda, seperti pencurian atau untuk mengumpulkan warga.

Namun di Suku Sunda sendiri, alat musik kohkol ini juga digunakan sebagai alat musik perkusi.

10. Jengglong
Alat musik jengglong yang berasal dari Jawa Barat ini memiliki peran penting dalam mengiringi kerangka lagu dan pembuat suara dasar. Jenglong ini dibuat dari perunggu, besi, dan kuningan.

Cara memainkan jengglong yaitu dengan menggunakan alat pemukul khusus yang terbuat dari kayu berbentuk lurus yang memiliki ujung empuk, karena dilapisi dari bahan dasar bahan wol dan benang.

Jengglong juga masih satu jenis dengan bonang, saron, dan gong, yang merupakan satu set dalam alat musik gamelan dari Jawa Barat.

11. Celempung
Sama seperti alat musik Sunda lainnya, alat musik celempung terbuat dari bambu gombong yang dilengkapi dengan senar dari bambu. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul dengan ujung yang dibalut kain, serta membuka ruas tutup pada bagian atasnya.

Celempung dapat menghasilkan suara yang terdengar seperti kendang dan suara gong. Alat musik ini digunakan dalam berbagai pertunjukan, yang umumnya dimainkan bersama kacapi, suling, gong buyung, dan juga rebab.

12. Jentreng
Alat musik khas Sunda lainnya adalah jentreng. Jentreng merupakan alat musik yang sejenis dengan kecapi, namun dengan jumlah senar atau dawai sebanyak tujuh buah. Kemudian, ukuran jentreng juga lebih kecil daripada kecapi pada umumnya.

Jentreng dibuat dari bahan kayu kembang atau kenang, yang bisa juga menggunakan kayu nanga. Cara memainkannya adalah dengan dipetik menggunakan jari-jari tangan. Ibu jari digunakan untuk memetik nada tinggi, sedangkan jari tengah, jari telunjuk, tangan kiri digunakan untuk nada rendah.

13. Goong Bambu
Walaupun bernama Goong yang seperti gong, berbeda dengan gong dari logam yang dipukul. Goong tiup menghasilkan suara yang mirip dengan dengungan menggema atau terompet pemanggil hewan ternak milik bangsa Eropa.

Uniknya, alat musik yang terbuat dari batang bambu utuh ini, berukuran besar sepanjang kurang lebih 1,5 meter hingga 2 meter. Alat ini masih bisa ditemukan di Tasikmalaya, salah satu senimannya yang terkenal di sana adalah Mang Adang.

Gong tiup ini dimainkan dengan menghembuskan napas melalui ujung bambu yang lebih kecil, alat musik ini tidak memiliki nada khusus namun dapat memberikan efek suar ayang berkesan magis.  ***

(Pam: dari berbagai sumber)

Original article: https://www.westjavatoday.com/kekayaan-ragam-alat-musik-sunda-dan-cara-memainkannya