Author Topic: Kerajinan Bonsai Tumpakwaru, Sulap Tanaman Liar Jadi Omset Jutaan Rupiah  (Read 102 times)

Offlinesuhartono

Newbie

Bagi pecinta tanaman hias, bonsai merupakan tanaman yang sudah tidak asing lagi. Tanaman yang populer di Negeri Bunga Sakura ini memang bukan tanaman biasa. Melainkan tanaman dengan sejuta keindahan hasil karya seni sentuhan manusia.

Bonsai merupakan apresiasi keindahan bentuk dahan, daun, batang, dan akar pohon. Bonsai identik dengan tanaman dalam pot dengan bentuk kerdil, namun memiliki kesan seperti pohon tua bak pohon di hutan belantara. Tak ayal, keberadaanya kerap dicari oleh penggemarnya, bahkan dengan keindahanya, bonsai sering dibandrol dengan harga selangit.


Sumber: jatimtimes(dot)com

Seiring waktu, perkembangan seni bonsai terus mengundang daya tarik tersendiri bagi para pecintanya. Salah satunya di Sumberjati, tepatnya di Dusun Tumpakwaru, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar atau akrab dikenal dengan Wisata Bukit Bonsai. Di dusun tersebut banyak sekali ditemui tanaman bonsai di pekarangan rumah warganya.

Terletak di antara area perbukitan kapur, dengan kontur tanah bertebing yang tandus dan berbatu ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Tumpakwaru. Selain melakukan aktivitas bertani dan berkebun warga Tumpakwaru juga banyak menekuni kerajinan tanaman bonsai. Para pengrajin bonsai ini telah puluhan tahun bergelut di bidang seni membuat bonsai. Mereka keluar masuk hutan untuk mencari bahan bonsai sudah merupakan kegiatan sehari-hari baginya. Tak heran, dari kerja kerasnya tercipta aneka macam bonsai dari berbagai macam tanaman.

Menurut salah satu pengrajin bonsai Tumpakwaru, Budiono (45), menjelaskan langkah-langkah membuat bonsai mulai dari perburuan bahan di hutan sampai perawatannya memakan waktu bertahun-tahun. “Mulai proses sampai jadi itu tergantung model dan pertumbuhan, nanti kalau modelnya tidak terlalu besar kita cari di hutan itu kita rawat paling sekitar lima tahun baru jadi. Biasanya kita ambil jenis Serut, Kimeng, Kawista Batu, Rabika, Klampis, Ampak, sama Ringin” jelas Budi, Senin (5/11/2018).

Tidak mudah mengangkut tunggak bahan bonsai dari hutan ke rumah. Harus dipastikan, akar bahan tidak banyak yang terpotong dan tanah asal bahan tidak tertinggal. Setelah sampai di rumah, dilakukan sejumlah langkah untuk merapikan bahan bonsai.

“Akar yang kurang rapi, dipotong. Kemudian ranting dan dahan dibentuk diserasikan dengan bentuk daun sehingga tercipta bentuk yang ideal. Untuk pembengkokan ranting dan dahan, tidak cukup dilakukan melalui satu pengamat. Biasanya tiap orang memiliki seleranya masing-masing, ada yang suka model formal, ada slenting ada gasket,” lanjut Budi. Ia menambahkan, penyiraman dan pemupukan tidak boleh dilupakan dalam dunia perawatan bonsai, minimal sehari sekali dilakukan penyiraman.

Selain sebagai hobi, kerajinan membuat bonsai di Tumpakwaru juga menjadi mata pencarian yang menawarkan peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Tak jarang tanaman bonsai dari Tumpakwaru sering menjuarai kontes dan banyak diburu para kolektor tanaman hias.

Menurut ketua paguyuban bonsai Tumpakwaru, berkat ketekunannya menggeluti tanaman bonsai ia bisa menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya. “Alhamdulillah dari bonsai ini saya bisa menyekolahkan anak sampek lulus lo mas, dan ya jadi semua ini. Jadi kalau bonsai ini kan nilai jualnya tidak ada standartnya, walaupun besar atau kecil harganya bisa tinggi tergantung motifnya. Terkadang pembeli itu kalau udah senang berapa aja tetep dibeli,”

Sumber: jatimtimes(dot)com