Recent Posts

Pages: 1 ... 8 9 [10]
91
Artikel Tentang Produk Indonesia / Mobil Karya Anak Bangsa Dari ITS
« Last post by aldionwahyu on February 28, 2020, 11:14:51 AM »
Source Image :Mobil listrik Lowo Ireng atau batman produksi ITS yang ikut konvoi Formula E, Jumat (20/9/2019)(KOMPAS.com/Ryana Aryadita)

Mobil listrik karya anak bangsa turut meramaikan konvoi mobil listrik di Monas, Jakarta Pusat dalam rangka menyambut Formula E 2020.

Mobil hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh November ini diberi nama Lowo Ireng atau Batman.

Juniono salah satu tim pembuat mobil Batman berujar bahwa mobil ini langsung dibawa dari Surabaya.

"Ini hasil riset dari ITS juga. Kami menggunakan penggerak listrik, penggerak dari motor BLDC kapasitas sampai 90 kilowatt dan controller-nya pun buatan kami juga bersama ITS," kata Juniono di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (20/9/2019).

Mobil listriK ini belum diproduksi secara massal dan baru prototype atau contoh awal.

Lowo Ireng sudah pernah diuji coba melintas Surabaya-Jakarta dan diikutsertakan dalam pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019.

 "Waktu itu pernah diuji dari Surabaya-Jakarta. Ini kami bawa ke sini untuk diikutkan ke pameran IIMS 2019 beberapa waktu lalu. Belum diproduksi secara massal," jelasnya.

Saat diuji coba mobil ini memiliki kecepatan 140 km per jam dan batas maksimal hingga 200 km/jam.

"Untuk ketahanan listrik kira-kira sampai 80 kilomoter untuk sekali cas. Lama casnya sekitar 2 sampai 3 jam," ujar Juniono.

Ia pun berharap industri kendaraan listrik di Indonesia di masa yang akan datang bisa lebih berkembang dan menggunakan kendaraan berbahan dasar listrik untuk kurangi emisi.

"Saya mengharapkan bisa membawa industri ke Indonesia. Ke depannya lebih berkembangnya lagi. Karena Formula E berbahan listrik juga," ujarnya.

Diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan mengumumkan gelaran internasional ini bersama dengan tim dari Federation International Automobile (FIA) atau panitia Formula E.

Formula E terkenal sebagai ajang balap  mobil listrik yang menggunakan jalanan perkotaan sebagai arena balap

Sejauh ini sudah ada 12 kota di dunia sudah menggelar ajang ini, antara lain Hong Kong, Roma, Paris, Berlin, New York, dan lainnya.

Adanya Formula E juga dapat dipakai sebagai kampanye kendaraan ramah lingkungan, serta mempromosikan kelebihan-kelebihan mobil listrik, bahwa mobil listrik sekarang sudah bisa dibuat untuk balapan.

Sumber : megapolitan(dot)kompas(dot)com
92
Kreatifitas anak anak dari Bumi Beselang Serundingan terus menonjol kali ini ditunjukkan oleh siswa dari MTs Negeri 1 Kabupaten Muratara.
Pasalnya, mereka mampu menyulap kardus bekas yang merupakan limbah organik kering yang sering ditemukan di tempat pembuangan sampah dan sudah tidak terpakai menjadi miniatur unik.


Sumber: tribunnews(dot)com

MTs Negeri 1 Muratara adalah sekolah lanjutan tingkat menengah berbasis Islam yang berada di Desa Lesung Batu, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Para siswa dan siswi di sana selain dididik ilmu agama dan pengetahuan umum, juga diajarkan keterampilan dalam bidang kesenian.

Salah satunya seni membuat kerajinan tangan dari bahan dasar kardus bekas menjadi miniatur unik, seperti rumah-rumahan, kapal-kapalan, dan lain sebagainya.

Kepala MTs Negeri 1 Muratara, Syakroni melalui guru mata pelajaran Prakarya, Eli Sartika menuturkan, kerajinan tangan yang dibuat oleh siswanya ini merupakan nilai praktek mata pelajaran Prakarya.

"Iya, kegiatan ini bagian dari ambil nilai, nah hasil karya mereka yang bagus-bagus ini bisa dipajang untuk menghias kelas ataupun kantor," katanya.

Menurut Eli, kegiatan tersebut bertujuan agar kreatifitas anak didiknya semakin terasah, sehingga bisa diketahui mana siswa yang memiliki jiwa seni yang tinggi.

"Semakin sering membuat Prakarya, maka akan semakin terasah juga kemampuan dan ide mereka, karena prestasi itu tidak hanya bidang Sains namun seni juga bisa menjadi prestasi," katanya.

Sementara, Komalia seorang siswi MTs Negeri 1 Muratara mengatakan, pembuatan kerajinan tangan berbahan kardus ini tidak terlalu sulit, apalagi bahannya pun mudah didapat.

"Untuk membuat kerajian dari kardus bekas ini kita harus memiliki teknik dan ketelitian yang tinggi agar hasilnya nanti terlihat bagus dan rapi," jelasnya.

Menurutnya, selain menambah pengetahuan tentang manfaat limbah organik, kegiatan seperti ini juga akan mengasah keterampilan siswa, sehingga siswa semakin kreatif dalam berkarya.

Sumber: tribunnews(dot)com
93

Sumber: faktualnews(dot)co

Prihatin dengan limbah yang dihasilkan warung kopi. Seorang ibu rumah tangga di kawasan Desa Suko, Sidoarjo menyulap bungkus minuman sachet menjadi kerajinan bernilai ekonomis.

Berkat usahanya yang tiada henti tersebut, kini hasilnya bisa digunakan untuk tambahan kebutuhan keluarga dan juga sukses memberdayakan ibu-ibu sekitar rumah.

Adalah Sumarsi (52), ibu rumah tangga warga Dusun Sungon, Desa Suko RT 22 RW 06, Sidoarjo yang memanfaatkan bungkus sachet minuman menjadi kerajinan daur ulang bernilai  ekonomi tinggi.

Sumarsi memanfaatkan banyak jenis sampah plastik dari bekas bungkus kopi berbagai merk. Yang bisa dibuat daur ulang kerajinan tangan seperti tas, tempat tissu, tutup galong air mineral,  taplak meja, tas laptop, dompet, dan berbagai jenis tas wanita.

Kegiatan daur ulang yang dia lakukan tujuan pertamanya untuk mengurangi banyaknya sampah plastik yang bertebaran dimana-mana. Selain itu juga untuk meminimalkan jumlah sampah, meningkatkan nilai ekonomi, sekaligus menjadi karya seni yang mampu menghasilkan uang.

“Berawal melihat sampah plastik kemasan kopi dari warkop-warkop yang bertebaran di jalan-jalan. Kemudian mencoba kami lipat-lipat dan di buat dompet, alhamdulillah berhasil,” kata Sumarsi, Sabtu (10/8/2019).

Setelah berhasil menyulap sampah plastik dari bungkus kopi berbagai merk di buat dompet, beberapa hari kemudian membuat taplak meja, tempat tissu, tas laptop dan berbagai jenis tas wanita. Proses pembuatan kerajinan ini memerlukan keahlian, ketekunan, dan kesabaran.

“Kami mendapatkan bahan baku tidak ada kendala, yakni dengan cara mendatangi warkop-warkop di pinggir-pinggir jalan. Kemasan kopi berbagai merk tersebut kami beli per tas kresek ukuran besar seharga Rp 5 ribu,” tambah Sumarsi.

Setelah mendapatkan bahan baku kemudian di lipat-lipat sesuai ukuran, kemudian baru dianyam sesuai bentuknya. Meskipun bahan bakunya dari sampah proses pembuatanya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi diantaranya pada saat pelipatan.

“Setelah bahan baku di pilah-pilah  disesuaikan dengan warna, kemudian dilipat. Selanjutnya disusun dan bisa dibuat beberapa jenis aitem, dan juga sesuai dengan bentuk pemesanan,” ujar Sumarsi.

Namun sayang hasil karya kerajinan  Sumarsi yang cukup unik ini belum mampu dipasarkan di mall-mall dan supermarket, karena keterbatasan dana. Hanya dipasarkan melalui online dan ofline. Dia berharap instansi terkait Pemkab Sidoarjo memperhatikan dan membantu hasil kerajinanya ini.

Meski pada awalnya barang yang dihasilkan Sumarsi belum ada yang melirik. Tapi dengan segala usaha dan ketekunan ahkirnya perlahan-lahan karyanya mulai di beli konsumen. Seiring perjalanan usahanya pesanan dari pembelipun mulai berdatangan.

Hasil karya kerajinan seperti tempat tissu di jual dengan harga Rp 25 ribu, tutup galon air mineral Rp 60 ribu, taplak meja Rp 50 hingga Rp 60 ribu, tas laptop  Rp 80 hingga  Rp 90 ribu dan tas wanita berbagai bentuk dan ukuran dipatok mulai dari Rp 75 ribu hingga  Rp 150 ribu.

Hingga saat ini, tambah Sumarsi, pembelinya masih dari lokal Jawa Timur, meskipun begitu kami mampu membantu tetangga kanan kiri rumah yang nganggur.

“Untuk omset bersih per bulan masih minim hanya Rp 3,5 juta, tapi kami bangga mampu memberikan kesibukan dan rejeki ke emak-emak yang tidak memiliki kesibukan,” pungkasnya.

Sumber: faktualnews(dot)co
94
Source Image : Mebel Indonesia dalam pameran Spoga plus Gafa 2018 di Koln, Jerman (sumber: KJRI Frankfurt)

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto, mengatakan bahwa pihaknya diajak kerjasama bersama Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop), untuk tumbuhkan koperasi di sektor furniture dan kerajinan (Kayu, rotan, bambu) Usaha Kecil Menengah (UKM), agar nantinya mampu bersaing di pasar internasional.

"Barusan HIMKI ketemu dengan pak menteri koperasi pak Teten, kami berterima kasih sekali karena di HIMKI itu mayoritas anggotanya usaha kecil menengah untuk ekspor ini UKM 80 persen. Dan kita tadi udah menyampaikan beberapa hal, bagaimana untuk menumbuh kembangkan UKM kita di Indonesia, karena bagaimana pun pergerakan ekonomi dunia ini sangat dinamis, jadi setiap pergerakan harus kita telaah dan kita maknai dari waktu ke waktu," kata Soenoto kepada awak media, setelah melakukan pertemuan dengan menteri koperasi dan UKM, di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Kamis, (6/2/2020).

Antara lain bagaimana nanti HIMKI dan Kemenkop bersama-sama membenahi UKM, supaya UKM ini bisa terorganisir dengan baik. Maka Soenoto menyampaikan bahwa dengan Kementerian koperasi akan terus melakukan diskusi, untuk mengembangkan hal apapun yang terkait misi presiden Joko Widodo.

"Untuk membuat badan-badan logistik badan penyangga, yang itu juga disetujui dan diinginkan oleh presiden," ujarnya.

Selain membuka koperasi di semua sektor furniture dan kerajinan, dalam pertemuannya juga membahas terkait permodalan dengan bunga rendah, supaya pelaku UKM bisa dengan mudah mengembangkan usahanya.

"Mungkin penekanan masalah di dalam, bagaimana pelaku UKM ini mendapatkan permodalan dengan bunga yang paling kompetitif, supaya produk kita ini bisa kompetitif di pasar internasional," ujarnya.

Kemudian, disampaikan juga bahwa dia melihat ada peluang untuk mengembangkan bahan bambu dalam sektor furniture dan kerajinan. Hal itu juga selaras dengan apa yang hendak diwujudkan oleh Kemenkop, yakni meningkatkan pemanfaatan bambu Indonesia.

"Beberapa celah lagi yang selama ini terlewat, misalnya kekuatan-kekuatan dibidang bambu, selama ini kita memikir rotan, kayu, dan sejenisnya bambu ini sedikit terlewatkan. Nah, kemudian koperasi ini sangat care dengan keberadaan bambu Indonesia. Hal lain lagi bahwa ada bimbingan untuk penjaminan pelaku UKM kita akan melakukan pameran di tempat yang strategis di seluruh dunia, dan kita sudah ajukan ada sekitar 7 negara," ujarnya.

Sumber : liputan6(dot)com
95
Source Image : Pengrajin kulit Sumadi Seng. Foto/Istimewa

Sumadi Seng adalah seorang pria berusia 72 tahun asal Candirejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dia merupakan pengrajin tangan berbahan kulit sapi atau kambing yang telah digelutinya sejak tahun 1970. Semula dia hanya memproduksi sadel.

Kemudian, Sumadi Seng yang dibantu 12 karyawannya itu membuat sepatu, sandal, tas hingga jaket kulit. Namun, tujuh tahun belakangan ini Sumadi juga membuat berbagai jenis aksesoris sepeda, seperti sadel, tas samping, penutup roda hingga tas setir.

Menariknya, semua kerajinan kulit karya Sumadi Seng di produksi secara tradisional. Tidak ada alat-alat super modern. Bahkan tempat produksinya, dari dulu tetap begitu-begitu saja. Pemanfaatkan bagian rumah berukuran 4x12 dari warisan keluarganya, Sumadi Seng tak lelah untuk terus berkarya.

Atap seng yang panas, dan peralatan sekadarnya tak menyurutkan niatnya untuk terus menghasilkan kerajinan kulit yang menjadi ciri khas karya keluarganya. Barangkali, karena bertahan di tempat produksi yang panas di bawah seng itulah dirinya dipanggil Sumadi Seng.

"Pernah ada bantuan dari pemerintah, alhamdulillah. Tapi ya kalau bisa diberikan tempat khusus untuk produksi saya, biar leluasa nambah tenaga kerja dan bisa mengurangi pengangguran, terutama anak putus sekolah di Magetan," tuturnya kepada wartawan, kemarin.

Keterbatasan dan kekurangan tersebut tidak lantas memupuskan semangatnya. Sumadi tetap eksis menghasilkan kerajinan-kerajinan kulit untuk aksesoris sepeda onthel.

Usahanya tidak pernah sepi, pesanan barang selalu berdatangan dari berbagai daerah baik dari pembeli langsung atau toko-toko penyedia aksesoris sepeda kuno dari wilayah Madiun, Tulungagung, Surabaya. Bahkan hingga ke Aceh, Kalimantan dan kota besar yang lainya.

"Untuk sadel dalam 5 hari itu ada 10 kodi yang bisa saya produksi. Sedangkan aksesoris lain seperti tas samping bisa samapi 10 biji per hari," jelas Sumadi.

Untuk harga satuannya beraneka ragam tergantung aksesorisnya, mulai dari termurah dijual Rp15 ribu hingga Rp275 ribu.

Sebenarnya Sumadi Seng ingin melebarkan sayapnya lagi. Memasarkan produknya hingga ke manca negara misalnya. Namun lagi-lagi, dia harus berhadapan dengan berbagai kendala yang ada di depannya. "Rencana pingin ekspor, tapi modalnya belum terpenuhi," ujarnya.

Sumber : daerah(dot)sindonews(dot)com
96
Artikel Tentang Produk Indonesia / Wujudkan Mimpi Sentra Kerajinan Logam
« Last post by suhartono on February 26, 2020, 10:00:11 AM »
berhenti sebagai pilot maskapai penerbangan swasta dan BUMN ternyata bukan pilihan yang salah bagi Ershad Salam (34), warga Desa Mijen, RT1 RW 4 Kecamatan Kebonagung, Demak.

Pria kelahiran Kota Semarang pada 1985 tersebut kini telah berhasil mengangkat nama desa tempat tinggalnya yakni Desa Mijen, menjadi sentra industri logam bernilai tinggi yang produknya diminati sejumlah negara. Melalui rumah produksi Zem Silver karya seni logam buatannya berhasil memikat lembaga negara mulai dari pemerintah daerah, DPR RI, hingga Istana Kepresiden.


Sumber: suaramerdeka(dot)com

Bahkan 2017 lalu, perhiasan kreasinya dipakai pada ajang Miss Universe. Suami Nila Citra Prabastari yang dikaruniai dua anak tersebut mengaku tertarik untuk berwiraswasta karena ingin membantu mengembangkan perekonomian masyarakat.

Menurut penuturannya, seseorang akan lebih bermakna dan bermanfaat jika dapat membantu lingkungan sekitar serta mengangkat daerah tempat tinggalnya menjadi kawasan perekonomian berbasis masyarakat. Untuk itu, saat masih berprofesi sebagai pilot, ia berupaya mencari ide usaha yang dapat dikembangkan bersama warga. Pandangannya tertuju pada kerajinan batik dan logam. "Hampir semua tempat yang saya singgahi selalu ada dua produk tersebut," katanya.

Hanya saja setelah melakukan kunjungannya ke daerah sentra batik di Nusantara, semangatnya justru mengendor. Hal itu karena menyadari hampir semua daerah memiliki produk batik. Dalam benaknya, jika ia ikut mengembangkan usaha tersebut akan sulit berkembang lantaran ketatnya persaingan pasar.

Pilihannya kemudian jatuh pada logam. "Sebab klaster kerajinan logam dan perhiasan kuningan jumlahnya belum banyak, hanya ada di beberapa daerah. Itupun terkendala sumber daya manusia," ungkap alumnus Kingston University bergelar PhD ini.

Tidak Mudah

Merintis usaha kerajinan logam ternyata tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Apalagi ia tidak memiliki pengetahuan khusus pada kerajinan tersebut. Demikian pula masyarakat sekitar yang juga tidak pernah tergambar akan menggeluti perlogaman. Namun keinginan yang kuat dan kemauan yang tak mudah patah menjadikannya terus melangkah.

Dia pun memutuskan untuk mencari cara termudah dan tercepat agar bisa menggeluti usaha itu. Langkah yang diambil adalah dengan mendatangkan tenaga kerja terampil dari sentra logam di Yogyakarta dan Boyolali. "Mereka kami datangkan untuk melatih warga hingga benar-benar bisa menghasilkan karya," bebernya.

Gayung bersambut, semangat warga untuk berlatih membuat mimpimimpinya cepat terealisasi. Dari semula hanya 4 orang, kini lebih dari 40 warga memiliki rumah produksi yang menghasilkan kerajinan berbahan baku logam dan kuningan. Respons positif pasar menguatkan pertumbuhan UMKM logam. Terlebih untuk mendapatkan bahan baku tidak terlalu sulit. Salah satu bahan baku yang dipakai adalah limbah elektronik, termasuk tembaga pada kabel. Meski kini telah banyak perajin tersebut di desanya, namun tak pernah terbesit dalam benaknya merasa ada pesaing. Justru ia mengaku senang dan ikut berbangga. Bahkan dalam berbagai kesempatan pameran, dia membawa hasil produk warga untuk ikut dipromosikan.

Sumber: suaramerdeka(dot)com
97
Artikel Tentang Produk Indonesia / Kerajinan Stik Es Krim Jadi Karya Seni Bernilai
« Last post by suhartono on February 26, 2020, 09:48:56 AM »

Sumber: detik(dot)com

Jeruji besi hanya mengurung fisik Imam Mujiono. Namun jiwa kreatif napi di Ponorogo ini tetap bebas bahkan menemukan jalannya. Berbekal cutter, lem dan stik es krim, ia mampu menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai.

Imam membuat miniatur motor besar, mobil, perahu, bus, dan lain-lain. Kreativitas yang dimiliki Imam saat ini bukan hasil tempaan di dalam rutan. Jadi sebelum terjerat kasus pencurian dan penjualan barang, pria 48 tahun itu memang pembuat mainan anak-anak.

"Kalau di sini alatnya terbatas, jadi harus memaksimalkan imajinasi," kata warga Desa Sidoarjo, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo saat ditemui detikcom di kantor Rutan Ponorogo Kelas II B, Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (14/3/2019).

Saat ditemui detikcom, ia tengah sibuk membuat miniatur motor besar. Berada di ruang Balai Latihan Kerja (BLK) Rutan, Imam tampak serius menggabungkan potongan-potongan stik es krim dengan menggunakan lem.

"Bahan bakunya biasanya disediakan petugas, saya dan teman saya nanti yang nyusun. Teman saya bagian spare part," imbuhnya.

Pria yang sering dipanggil Kijon ini mampu membuat mainan berukuran kecil selama 2 hari. Sedangkan ukuran besar seperti miniatur kapal pesiar bisa memakan waktu 1 minggu.

Sumber: detik(dot)com
98
Produk kerajinan wayang kulit itu bermacam-macam. Ada yang dibuat secara sederhana dengan harga jual yang murah, namun ada juga yang dibuat secara teliti dan menggunakan bahan kulit kerbau berkualitas tinggi sehingga daya jualnya mencapai jutaan rupiah per lembarnya. Hasil karya berkualitas tinggi ini diminati turis maupun budayawan asing. Hajatan Festival Keraton Sedunia yang digelar di Taman Monas, Gambir, menghadirkan perajin wayang kulit kelas wahid yakni Saimono, asal Makamhaji, Solo, Jawa Tengah.



Sumber: poskota(dot)id

Untuk membuat produk wayang kulit yang bermutu tinggi, membutuhkan waktu minimalnya satu bulan. Hasil karya Saimono banyak digunakan dalang papan atas karena selain penampilannya indah juga enak dimainkan. "Untuk membuat wayang tokoh ksatria yang banyak pernak-pernik dan sangat rumit pengerjaannya, membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hanya untuk memahat atau menatah saja," ujar Saimono yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, kemarin. Sedangkan untuk pewarnaan yang tak kalah rumitnya memakan waktu sekitar satu minggu. "Jadi, untuk membuat wayang ksataria seperti tokoh Wisnu, Pendawa, maupun raja lainnya butuh waktu sekitar satu bulan. Maka wajar saja, kalau harganya agak mahal," ujar Saimono yang membanderol harga mulai dari Rp 600 ribu sampai jutaan rupiah per lembarnya. Sedangkan untuk membuat tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, dapat dilakukan lebih cepat karena tidak banyak pernak-pernik. "Cuma dalam beberapa hari saja sudah selesai, karena pakaian dan warnanya sangat sederhan. Otomatis harganya pun lebih murah dibandingkan ksatria," kata Saimono yang dibantu salah satu mahasiswanya, Fariz Wibisono. Menekuni usaha kerajinan wayang kulit, sebenarnya bagi Saimono lebih banyak melampiaskan hobi. "Ini merupakan hobi turun-menurun sejak mendiang kakek, ayah, hingga saya sendiri. Rasanya puas kalau kita bisa memproduksi wayang yang indah dan diminati banyak orang," papar Saimono sambil menambahkan hasil karyanya banyak diminati turis maupun budayawan asing, seperti dari Belanda, Australia, Perancis, Jepang, Singapura, Malaysia, dan lainnya. (joko/sir) Teks Gbr- Saimono bersama asistennya Fariz memperagakan pembuatan wayang kulit di acara Festival Keraton Sedunia di Monas, Gambir. (joko)

Sumber: poskota(dot)id
99


Sumber: mongabay(dot)co.id

* Kerajinan kerang merupakan slah satu industri rumahan di Desa Penanjan, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan,     Jawa Timur
* Hasil kerajinan seperti pigura, tempat tisu, jam dinding, hiasan lampu, dan juga pin. Semuanya berbahan utama dari hasil laut, seperti kerang. Juga keong, siput, bintang laut, dan kepiting.
* Pengrajin mulai kesulitan mendapatkan bahan baku, pasca peristiwa penyelundupan ribuan cangkang kerang yang berhasil digagalkan oleh Direktorat Bea Cukai pada 2016.
* Pengrajin berharap pemerintah melalui dinas terkait bisa memberikan solusi.

Satu persatu kulit kerang itu ditempel di atas triplek, yang sebelumnya sudah ditabur pasir diberi warna pink, kerang itu satu persatu digabungkan dengan menggunakan lem. Setelah tersusun, puluhan kulit kerang putih itu pun terlihat membentuk pola gambar love, mengikuti pola kertas yang akan dibuat frame pigura di salah satu industri rumahan kerajinan kerang di Desa Penanjan, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Tidak hanya membuat pigura, di rumah industri tersebut juga membuat hasil kerajinan lain, seperti tempat tisu, jam dinding, hiasan lampu, dan juga pin. Semuanya menggunakan bahan utama dari hasil laut, salah satunya adalah kerang. Selain itu, ada juga keong, siput, bintang laut, dan kepiting.

“Kalau bahannya sudah ada, yang dilakukan pertama itu membuat pola. Menyesuaikan dengan ide, maunya membuat kerajinan bentuk apa,” kata Eka Andri Kurniawan, salah satu pengrajin kulit kerang, saat ditemui di ruang produksinya pada, Senin (19/08/2019).



Dia melanjutkan, kalau membuat pigura dalam sehari dia bisa mengerjakan lebih kurang 20 biji. Untuk yang pin, dalam sehari bisa mencapai 50-60 biji.

Pembuatannya itu, katanya, tergantung kondisi cuaca. Jika musim panas seperti sekarang ini, dia bisa memproduksi banyak. Sebaliknya, saat musim hujan produksinya bisa menurun. Karena memroduksi kerajinan kerang ini membutuhkan cuaca yang cerah dan kering.

Untuk pembuatanya, beber lelaki berkulit sawo matang ini, setelah bahan utamanya didapatkan, pertama kali yang harus dilakukan yaitu membersihkan dengan air sebanyak tiga kali. Pembersihan awal, menggunakan air yang dicampur dengan HCL. Kemudian untuk pembersihan kedua, dibilas menggunakan air biasa. Tahap berikutnya, dicuci dengan air yang dicampur dengan kaporit. Tujuannya, biar kulit kerang tersebut tidak menimbulkan aroma bau. Setelah itu, bahan baru bisa digunakan setelah proses pengeringan selama dua sampai tiga hari.

Sulit Bahan

Eka mengaku, bahan utama yang didapatkan ini kebanyakan dari Situbondo, Jawa Timur. Dari para pengepul yang sebelumnya dilakukan dengan cara dibusukkan. Sebagian bahan yang didapat dari laut itu, lanjutnya, tidak hanya dari limbah kulit kerang saja, tetapi ada juga yang sengaja diambil nelayan untuk memenuhi permintaan para pengrajin. Untuk itu tidak ada pemilahan khusus, jadi baik kerang maupun keong dengan ukuran kecil pun juga diambil.

Seiring berjalannya waktu, dia merasa kesulitan mendapatkan bahan baku. Kesulitan yang dirasakan itu, katanya, pasca ada peristiwa penyelundupan ribuan cangkang kerang yang berhasil digagalkan oleh Direktorat Bea Cukai pada tahun 2016.


Dilansir dari detik.com, pemerintah pernah menggagalkan ekspor cangkang kerang melalui pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan negara tujuan penyelundupan yaitu Tiongkok. Cangkang kerang yang diselundupkan merupakan jenis kerang kepala kambing, atau Cassis cornuta. Modusnya, cangkang kepala kambing ini diselipkan dengan cangkang jenis lainnya. Hasil analisis intelijen, diketahui ada indikasi pelanggaran Undang-Undang (UU) yang berkaitan dengan tumbuhan dan satwa liar.

Kemudian, Bea Cukai menerbitkan Nota Hasil Intelijen (NHI) yang bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta untuk melakukan pengecekan. Dari hasil identifikasi, petugas tersebut kemudian menyimpulkan, bahwa sampel yang diperiksa itu merupakan kerang kepala kambing yang dikemas dalam 388 koli, dan juga kerang jenis lain dikemas dalam 41 koil. Barang bukti kerang kepala kambing sebanyak 4.268 pieces. Nilai barang yang diperkirakan Rp5,3 miliar.

Pasca persitiwa itu, Eka menduga, kemudian ada regulasi dari pemerintah yang semakin ketat. Sehingga berpengaruh ke bahan baku yang didapatkan. Dia merasa pendapatannya menurun. “Selain sulit, harga barang juga naik sampai 2-3 kali lipat. Dulu bahan yang termahal itu Rp40 per kilo, sekarang ini bisa mencapai Rp100 per kilo,” keluhnya.

Selain itu, pengambilan kerang dan keong di laut yang tidak terkontrol juga turut mempengaruhi langkanya mencari bahan untuk kerajinan. Untuk itu, dia mulai berinisiatif dengan mencari bahan dari daerah sendiri.

“Kami menyadari, kalau apa yang kami lakukan ini menyalahi aturan, untuk itu kami mulai mencari bahan bahan itu ya dari lokal, disini kan orang-orang yang mencari kerang untuk dikonsumsi juga banyak. Dari situ, kami beli kulitnya. Lalu kami buat kerajinan,” imbuh pria yang sudah 9 tahun membuat kerajinan kulit kerang ini.


Dukungan Pemerintah Kurang

Dulu, sebelum terjadinya peristiwa penyelundupan itu, dalam sebulan dia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp5-6 juta perbulan. Dia bahkan pernah melakukan pengiriman ke beberapa daerah, seperti Manado, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua. Tapi kini, seiring berjalannya waktu, penghasilan terus menurun karena bahan baku dari luar daerah semakin sulit dan mahal.

Dia berharap, pemerintah melalui dinas terkait bisa memberikan solusi. Pihaknya menilai, sejauh ini belum ada perhatian dari petugas yang mempunyai kewajiban. Bahkan, untuk pembuatan izin juga dia merasa tidak diberi tahu. “Selama ini ya berjalan sendiri, tidak ada sosialisasi apa-apa,” katanya.

Nurul Afida, salah satu penjual kerajinan mengaku, dengan berjualan kerajinan berbahan utama kulit kerang itu perekonomiannya bisa terbantu. Sejauh ini, katanya, kerajinan kerang masih digemari wisatawan karena menjadi salah satu oleh-oleh yang mempunyai ciri khas daerah pesisir. Pada musim libur, dia bisa menjual antara 10-20 biji.

Dia juga merasakan, kesulitan bahan yang saat ini dihadapi pengrajin juga berdampak pada barang jual yang dia dapatkan. “Motif kerajinannya tidak sebanyak dulu, kalau sekarang ini pilihannya tidak beragam,” kata perempuan yang berjualan di sekitar tempat wisata pantai Lorena, tidak jauh dari tempat pengrajin itu.

Untuk itu, senada dengan Eka, dia juga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk pengembangan kerajinan berbahan utama kerang ini. Apalagi, katannya, bahan yang digunakan ini juga mulai memanfaatkan limbah kulit kerang dari masyarakat lokal.

Sumber: mongabay(dot)co.id
100
Artikel Tentang Produk Indonesia / Kerajinan Tangan Khas Masyarakat Dayak
« Last post by aldionwahyu on February 25, 2020, 02:32:31 PM »
Source Image : Anyaman rotan berbentuk kerjanjang ini merupakan salah satu kerajinan tangan khas masyarakat Dayak Bidayuh, Desa Jagoi Kindau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. (Dok. Humas Kementerian Pariwisata RI

Indonesia tidak hanya kaya akan tradisi budaya, tapi juga banyak memiliki beragam kerajinan tangan tradisional. Salah satunya adalah kerajinan base dan raga karya masyarakat Dayak Bidayuh.

Base merupakan anyaman rotan berbentuk keranjang besar. Sementara itu, raga adalah tas anyaman rotan kecil atau tas belanja. Selain itu, ada juga produk cincin dan gelang yang terbuat dari rotan.

Dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima Senin(17/6/2019) dijelaskan, kerajinan Dayak Bidayuh itu dapat ditemukan di Desa Jagoi Kindau, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar)

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Bengkayang I Made Putra Negara menjelaskan, rata-rata masyarakat Jagoi Kindau adalah perajin anyaman rotan. Tradisi membuat kerajinan itu sudah dilakukan turun temurun sejak nenek moyang mereka.

Putra menambahkan, Desa Jagoi Kindau pun sudah ditetapkan sebagai kampung kreatif oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkayang. Artinya, produk kerajinan yang dihasilkan benar-benar berkualitas.

"Sejauh ini, market utamanya adalah orang Malaysia. Sebab, wilyah ini sangat dekat dengan perbatasan Indonesia-Malaysia," terang Putra pada acara Internasional Nyobeng Dayak Bidayuh 2019, di Kalimantan Barat, Minggu (16/6/2019).

Acara tersebut berlangsung pada tanggal 15 - 16 Juni 2019 di Dusun Sebujit, Desa Hlibue, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalbar yang menampilkan beragam kegiatan, seperti tradisi budaya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani mengatakan, produk anyaman rotan Desa Jagoi Kindau sangat khas karena semua dibuat secara manual. Karenanya, hasil pengerjaannya pun sangat detail.

Harga kerajinannya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp100.000 - Rp300.000 tergantung jenis produknya. Selain itu, wisatwan yang berkunjung pun dapat belajar membuat anyaman rotan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun mengakui potensi besar yang dimiliki Desa Jagoi Kindau itu. Menurutnya, produk anyaman khas itu merupakan aset besar bagi pariwisata Kabupaten Bengkayang.

"Banyak wisatawan terpesona dengan budaya Indonesia. Bahkan, 60 persen wisatawan mancanegara datang ke Tanah Air karena budayanya. Dari sisi atraksi, budaya kita jelas sangat kuat. Ini yang harus dikelola secara serius bersama-sama," pungkas Arief.

Sumber : kompas(dot)com
Pages: 1 ... 8 9 [10]